Inilah Doa dan Terapi yang Diajarkan Rasulullah untuk Menyembuhkan Bagian Tubuh yang SakitSetiap penyakit ada obatnya, demikianlah yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu orang yang mengalami sakit dianjurkan untuk berobat. Rasulullah SAW juga mengajarkan doa-doa untuk penyakit tertentu. Contohnya adalah berikut ini.

    Jika yang sakit hanya dibagian tertentu dari tubuh kita, misalnya bagian dada (paru-paru dan jantung), kepala (sakit kepala atau migrain), sakit perut (lambung/maag), dan sejenisnya, maka Rasulullah menganjurkan untuk membaca doa berikut ini:

    ضَعْ ÙŠَدَÙƒَ عَÙ„َÙ‰ الَّذِÙ‰ تَØ£َÙ„َّÙ…َ Ù…ِÙ†ْ جَسَدِÙƒَ ÙˆَÙ‚ُÙ„ْ بِاسْÙ…ِ اللَّÙ‡ِ. Ø«َلاَØ«ًا. ÙˆَÙ‚ُÙ„ْ سَبْعَ Ù…َرَّاتٍ Ø£َعُوذُ بِاللَّÙ‡ِ ÙˆَÙ‚ُدْرَتِÙ‡ِ Ù…ِÙ†ْ Ø´َرِّ Ù…َا Ø£َجِدُ ÙˆَØ£ُØ­َاذِرُ

    “Letakkan tanganmu pada tempat yang sakit dan bacalah Bismillah tiga kali, lalu bacalah “A’uudzu billahi wa qudrotihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru” (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan)” (HR. Muslim)
    Image result for doa
    Dalam Syarah Hisnul Muslim disebutkan asbabul wurud hadits ini.Suatu hari ada seornag sahabat Nabi SAW yang datang mengeluhkan sakit pada anggota tubuhnya. Ia bernama Utsman bin Al Ash r.a. yang merasakan sakit sejak ia masuk islam. Lalu Rasulullah mengajarkan doa dan cara tersebut:
    1. Letakkan tangan pada tempat yang sakit
    2. Baca bismillah tiga kali
    3. Baca doa ini tujuh kali:

    Ø£َعُوذُ بِاللَّÙ‡ِ ÙˆَÙ‚ُدْرَتِÙ‡ِ Ù…ِÙ†ْ Ø´َرِّ Ù…َا Ø£َجِدُ ÙˆَØ£ُØ­َاذِرُ

    Artinya: Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari keburukan yang sedang aku rasakan dan yang aku khawatirkan
    Jika kita meyakini betul apa yang diajarkan Rasulullah ini, maka insya Allah, Allah akan memberikan kesembuhan kepada kita, seperti halnya Allah SWT memberikan kesembuhan kepada Utsman bin Al Ash r.a. Semoga Allah SWT senantiasa memudahkan kita untuk mengikuti sunnah-sunnah Rasulullah SAW dan Allah mengaruniakan rizqi kesehatan kepada kita dan seluruh anggota keluarga. Aamiin.

    Kisah Umar bin Khathab Mengubur Hidup-hidup PuterinyaAda beberapa buah buku yang disebarkan dengan cukup luas di masyarakat yang memuat kisah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh yang konon telah membunuh seorang anak perempuan dengan menguburnya hidup-hidup, seperti buku Sepuluh Sahabat Dijamin Masuk Surga oleh Muhammad Ali Quthub, terbitan Pustaka Nasional (1984), halaman 50-51. Terdapat juga dua artikel yang disiarkan di dalam surat kabar Harakah. Satunya disiarkan sebagai bahan bacaan untuk kanak-kanak di ruangan Bestari (Harakah, 18 Disember 1998), dan satu lagi artikel hasil penyelidikan satu kumpulan yang memakai nama “Ilham” (Harakah, 30 Nov. 1998). Keduanya memuat cerita yang sama dengan sedikit perbedaan narasinya.

    Jika cerita yang seperti itu disiarkan oleh musuh Islam tentu sekali tidak ada maksud lain lagi bagi mereka selain untuk memburuk-burukkan citra Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh sebagai sahabat karib Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan khalifah agung umat Islam.
    Image result for perempuan zaman rasul
    Cerita yang seperti ini jika disebarkan oleh kalangan Ahlus Sunnah Wal Jamaah, pada pandangan penulis ada dua kemungkinan yang mendorong mereka menyebarkannya. Pertama, karena jahil dan kedua adalah karena menganggap kisah ini berlaku sewaktu Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh berada di zaman Jahiliyah.
    Apa peliknya andaikata semasa Jahiliyah itu Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh telah melakukan demikian! Selain itu bukankah ini menunjukkan kehebatan Islam? Dengan kemampuannya yang luar biasa dalam mengubah dan membentuk pribadi manusia, sehingga manusia yang sekejam Umar Radhiyallahu ‘Anh itu pun setelah memeluk Islam menjadi sebaik-baik manusia malah pemimpin Islam contoh untuk umat Islam kemudian.
    Bagi penulis, tidak timbul soal kehebatan Islam dalam mengubah kehidupan manusia karena ini pun telah terbukti melalui sekian banyak riwayat-riwayat yang shahih. Tetapi bagaimana dengan cerita kekejaman Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh ini? Apakah kedudukannya? Adakah ia memang berdasar atau ia hanya dongeng dan cerita rekaan semata-mata?
    Alangkah berguna kepada para pembaca sekalian sekiranya penulis buku-buku dan artikel-artikel tersebut mengemukakan tempat rujukan kisah ini supaya amanah ilmiah yang mereka bawakan kepada orang banyak itu disampaikan dengan penuh tanggungjawab.
    Kisah ini tidak akan dapat ditemui dan didapatkan walaupun bayangannya di dalam kitab-kitab hadits atau kitab-kitab sejarah yang muktabar. Tentu sekali mulanya ia direka oleh musuh Islam, tetapi sungguh malang sekali kita umat Islam hari ini, karena menerima apa saja yang disodorkan dalam bentuk cerita atau kisah-kisah sahabat padahal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah pun bersabda yang berarti;
    “Cukuplah seseorang itu menjadi pendusta apabila ia menceritakan apa saja yang didengarnya.” (Hadits Riwayat Muslim)
    Tujuan penulis mengoreksi artikel-artikel ini tidak lain adalah untuk memelihara kesucian sejarah hidup sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, juga untuk memberi peringatan kepada umat Islam umumnya, pendakwah-pendakwah, penulis-penulis dan guru-guru agama khususnya supaya berhati-hati apabila membawa sesuatu kisah berhubung dengan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabat Baginda Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam karena mereka adalah cermin agama Islam.
    Supaya lebih jelas kepada para pembaca, penulis putarkan kembali bagian terpenting dari kisah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh mengubur hidup-hidup anak perempuannya (sebagaimana yang disiarkan di dalam akhbar tersebut). Begini ceritanya …
    “… Umar memejamkan mata. Anak itu ditendangnya masuk ke dalam lubang yang digalinya. la menangis. Umar tidak menghiraukannya. … Umar menutupkan mata dan terpikir, “Oh! Anakku yang manis dan pintar. Mengapa kau dilahirkan sebagai perempuan?” la menangis. Tangannya gementar, tubuhnya menggigil. “Umar, jangan jadi pengecut,” tiba-tiba suara itu terdengar berulang kali di telinganya. Lalu sambil menahan kesedihannya, Umar meneruskan lagi menimbun pasir ke lubang tadi, sehinggalah anaknya itu menghembuskan nafasnya yang terakhir …”
    Selain kisah ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab shahih dan muktabar, ia juga bertolak belakang dengan kaidah ilmu periwayatan yang dipakai oleh ulama’ Islam dalam menilai sesuatu cerita.
    Di antara alasan yang boleh dikemukakan ialah:
    1. Tidak ada satu pun riwayat yang boleh dipertanggungjawabkan untuk membuktikan seorang pun dari kabilah Quraisy pernah mengubur anak hidup-hidup, apatah lagi untuk membuktikan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh membunuh anak perempuan sendiri.
    2. Adat mengubur anak perempuan hidup-hidup berlaku di kalangan setengah-setengah kabilah Bani Tamim dan Asad yang bimbangkan kepapaan menimpa mereka disebabkan anak-anak itu. (Mohd Tayyib An Najjar, Al Qabasu Al Waddha’, halaman 78, Zakaria Bashier, The Meccan Crucible, halaman 24).
    Sebagaimana adanya riwayat menyebutkan Qais bin Asim, seorang pemimpin kabilah Bani Tamim yang kemudiannya memeluk Islam, telah mengaku mengubur hidup-hidup 8 orang anak perempuannya di zaman Jahiliyah, di sana terdapat juga riwayat menyebutkan seorang pemimpin dari kabilah yang sama telah menyelamatkan sekian banyak anak-anak perempuan dari dibunuh oleh ibu bapak mereka karena takutkan kepapaan dengan membeli anak-anak perempuan itu.
    Di antara pemimpin yang menonjol dalam usaha membasmi adat keji ini ialah Sa’sa’ah bin Naajiah, kakek dari Al Farazdaq (seorang penyair Arab yang terkenal) dan Zaid bin Amar bin Nufail.
    Sa’sa’ah telah membeli anak perempuan dari kedua ibu bapak mereka, kemudian memelihara mereka hingga dewasa. Bilangan anak-anak perempuan yang dipeliharanya ialah 360 orang. (Ath Thabarani dalam Al Mu’jamu Al Kabir, jilid 8, halaman 77).
    Sementara Zaid bin Amar bin Nufail pula tidak terpengaruh dengan masyarakatnya yang menyekutukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sesuatu yang lain malah beliau mencari-cari kebenaran dan sedapat mungkin cuba mengesan serta mengamalkan sisa-sisa peninggalan agama Nabi Ibrahim (‘Alaihis Salam). Beliau juga membeli anak-anak perempuan dari ibu bapak mereka lalu memeliharanya hingga dewasa. Kemudian beliau akan membawa anak perempuan itu kepada dua ibu bapak masing-masing lalu berkata kepada mereka, “Jika kamu suka kepada anak perempuan kamu ini bolehlah kamu mengambilnya, atau kalau kamu tidak mahu biarlah anak-anak perempuan ini bersama saya.” (Bukhari, jilid 1, halaman 540.)
    Zaid bin Amar bin Nufail bukan saja dari keluarga Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh malah beliau merupakan sepupu Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh sendiri. Adik perempuan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh menjadi isteri kepada anaknya Sa’id, manakala anak perempuan Zaid pula menjadi isteri Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh sendiri. Takkanlah dalam keluarga yang terkenal dengan usaha-usaha suci menyelamatkan anak-anak perempuan dari dibunuh oleh orang tua mereka, tiba-tiba seorang yang sangat menyerlah dan terpenting di kalangan mereka melakukan perbuatan terkutuk ini dengan membunuh anak sendiri!
    3. Setelah Mekah dibuka, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berbai’at dengan perempuan-perempuan Mukmin. Di antara ucapan Baginda Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah:  “Kamu tidak lagi akan membunuh anak-anak kamu.” Hindun dengan spontan menjawab, “Kami memelihara mereka semasa kecil, apabila besar kamu pula yang membunuhnya.”
    Peristiwa tersebut dicatatkan di dalam kitab-kitab hadits dan kitab-kitab sirah dengan jelas dan terperinci, kata-kata Hindun ini menunjukkan kabilah Quraisy tidak terlibat dengan adat yang keji ini.
    Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim juga membuktikan bahawa Quraisy tidak terlibat dalam pembunuhan anak-anak perempuan iaitu sabda Baginda Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bermaksud;
    “Sebaik-baik perempuan Arab ialah perempuan Quraisy. Mereka sangat penyayang terhadap anak-anak yatim sewaktu kecilnya dan mereka amat menjaga kedudukan dan harta benda suami.” (Shahih Muslim, jilid 16 halaman 81)
    Apa artinya pujian Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengenai sifat penyayang mereka terhadap anak-anak sekiranya mereka juga seperti kabilah-kabilah lain yang terlibat dengan adat membunuh anak? Sewaktu Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam diutuskan menjadi Nabi, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh ketika itu berumur 27 tahun. Anak-anak Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh yang lahir sebelum Islam semuanya masih hidup. Mereka ialah Ummul Mukminin Hafsah, Abdullah bin Umar dan Abdul Rahman.
    Dalam tradisi Arab, seseorang itu di-kunyah-kan dengan anak sulungnya. Sebagaimana kunyah Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ialah Abu Al Qasim, kunyah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh ialah Abu Hafsin yang merujuk kepada Hafsah, anak perempuannya. Ini menunjukkan anak perempuan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh yang sulung ialah Sayyidatina Hafsah.
    Perlu juga diperhatikan bahawa di sepanjang hayatnya, berapa banyakkah isteri Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh dan juga hamba sahayanya di samping anak-anak beliau dengan mereka itu?
    Karena sejarah menyimpan semua maklumat isteri-isteri dan anak-anak Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh, Imam Ibnu Al Jauzi dan lain-lain telah menuliskan daftar isteri-isteri Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh dan anak-anaknya serta hamba sahayanya. Beliau menulis, “Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh mempunyai beberapa orang isteri dan mendapat banyak anak.”
    Isteri beliau ialah:
    1. Zainab binti Maz’un. Zainab adalah saudara perempuan Utsman bin Maz’un yang terbilang di antara orang yang memeluk Islam di peringkat permulaan, juga merupakan saudara susuan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dengan Zainab ini Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh telah mendapat tiga orang anak iaitu Hafshah, Abdullah, dan Abdul Rahman.
    2. Atikah binti Zaid bin Amar bin Nufail. Dengannya beliau mendapat seorang anak lelaki bernama ‘lyadh.
    3. Isteri yang ketiga ialah Jamilah binti Tsabit bin Aflah. Dengannya beliau mendapat seorang anak lelaki bernama ‘Ashim.
    4. Ummul Hakam binti Al Harits bin Hisyam. Dengannya beliau mendapat anak perempuan bernama Fatimah.
    5. Ummul Kultsum binti Jarwal bin Malik. Dengannya beliau mendapat dua orang anak bernama Ubaidullah dan Zaid Al Akbar.
    6. Ummul Kultsum binti Ali bin Abi Talib. Dengannya beliau mendapat dua orang anak bernama Zaid Al Ashghar dan Ruqayyah.
    7. Dari hamba sahayanya yang bernama Fukayyah dan Luhayyah juga Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh telah mendapat anak. Dengan Fukayyah dia mendapat anak perempuan bernama Zainab dan dengan Luhayyah beliau mendapat anak bernama Abdul Rahman Al Ausath dan Abdul Rahman Al Ashghar.
    Jadi anak-anak Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh adalah seperti berikut:
    Lelaki:
    1. Abdullah
    2. Abdul Rahman Al Akbar
    3. Abdul Rahman Al Ausath
    4. Abdul Rahman Al Ashghar
    5. Zaid Al Akbar
    6. Zaid Al Ashghar
    7. Ubaidullah
    8. ‘Ashim
    9. ‘lyadh
    Perempuan:
    1. Hafshah
    2. Ruqayyah
    3. Fatimah
    4. Zainab
    Dari isteri pertamanya Zainab binti Maz’un, Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh hanya mendapat tiga orang anak yaitu Ummul Mukminin Hafsah, Abdullah bin Umar dan Abdul Rahman Al Akbar. Hafsah adalah anak sulungnya dengan Zainab binti Maz’un, sebab itulah beliau dikunyahkan dengan Abu Hafsin.
    Pada ketika beliau memeluk Islam, beliau mempunyai hanya 3 orang anak ini saja. Kalau begitu anak yang manakah yang ditanam hidup-hidup oleh Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh itu? Siapakah namanya dan siapakah nama ibunya? Kalaulah Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh betul-betul tidak suka atau bencikan anak perempuan, kenapa pula beliau sanggup memakai kunyah Abu Hafsin?
    Selain dari alasan yang disebutkan tadi, adakah logik Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh baru mengetahui jantina sebenar anaknya hanya setelah anak itu berumur 4 tahun?
    Mungkin juga orang yang mula-mula menyebarkan kisah ini terkeliru dengan riwayat Wadhin yang dikemukakan oleh Imam Daarimi di dalam Sunan-nya, atau mungkin ia pura-pura terkeliru.
    Riwayat itu menyebutkan bahwa ada seorang lelaki mengadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah! Kami dahulu orang-orang Jahiliyah. Kami menyembah berhala dan membunuh anak-anak. Saya pernah mempunyai seorang anak perempuan. Bila saya memanggilnya dia berlari-lari datang kepada saya dan sangat ceria. Pada suatu hari saya memanggilnya. Dia terus mengekori saya. Berdekatan dengan tempat itu ada satu telaga. Saya memegang tangannya dan mendorongnya masuk ke dalam telaga. Kata-kata terakhir yang terkeluar dari mulutnya ialah, ‘Ayah!’”
    Mendengar ceritanya itu Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis. Orang-orang yang ada berdekatan dengan Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada orang itu, “Kamu betul-betul telah menyedihkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.” Nabi bersabda, “Orang ini datang bertanyakan sesuatu yang lebih penting dari itu (kesedihan Rasulullah).” Seraya Baginda Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata kepada orang itu, “Ceritakan sekali lagi kisah itu.” Orang itu pun mengulangi lagi sekali kisah tersebut menyebabkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menangis sehingga basah janggutnya.
    Kemudian Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Perkara-perkara yang telah dilakukan oleh mereka di zaman Jahiliyah telah dihapuskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan masuknya mereka ke dalam Islam. Sekarang mulaikanlah amalan-amalan yang lain.” (Sunan Daarimi, jilid 1, halaman 3)
    Ini adalah satu kisah dari seorang yang tidak diketahui siapa orangnya dan apa namanya. Mungkin orang-orang yang mempunyai maksud jahat telah mengaitkan cerita ini dengan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh padahal cerita ini pun jika ditimbang dengan neraca ilmu riwayat juga tidak dapat disabitkan karena Wadhin adalah merupakan perawi teratas, lahir pada tahun 80 H dan wafat pada 149 H, sedangkan dia tidak pula menceritakan perawi lain di atasnya. Tidak mungkin dia telah mendengar sendiri kisah ini 80 tahun sebelum kelahirannya!
    Dalam istilah ilmu hadits, riwayat seperti ini dinamakan riwayat munqathi’, karena perawi di atasnya tidak disebutkan. Selain itu Wadhin itu sendiri adalah seorang yang dipertikaikan oleh ulama’ rijal hadits tentangnya. Imam Bukhari, Muslim, dan Nasa’i tidak mau menerima riwayatnya. Ibnu Saad berkata, “Dia seorang yang dhaif.” Abu Hatim berkata, “Sebagian riwayatnya baik, tetapi sebagian yang lain sangatlah buruk.” Jauzajani berkata, “Riwayat-riwayatnya adalah lemah.” (Mizan Al I’tidal, jilid 4, halaman 336). Hafidz Ibnu Hajar menulis bahwa, “Ingatannya sangat jelek di samping tertuduh berfahaman Qadariyah.” (Taqribu At Tahzib jilid 2 halaman 331)
    Bila riwayat itu sendiri tidak tahan diuji, di samping orang yang berkenaan pula tidak disebutkan dengan jelas namanya, kenapa pula ada orang yang pandai-pandai mengaitkannya dengan Sayyidina Umar Radhiyallahu ‘Anh? Tentu sekali perbuatan seperti ini tidak berani dilakukan dengan sengaja, kecuali oleh musuh-musuh Islam.

    Kisah perempuan berzina yang curhat kepada Nabi Musa AS - Suatu hari, seorang wanita berparas cantik dengan berjalan terhuyung-huyung menuju kediaman Nabi Musa AS. Lewat pakaiannya sepintas terlihat menandakan bahwa wanita itu tengah berada dalam duka cita yang mendalam.


    Kisah perempuan berzina yang curhat kepada Nabi Musa AS

    Sesampainya di depan rumah Nabi Musa AS, di ketuknya pintu pelan-pelan sambil mengucapkan salam. Mendengar salam itu, Nabi Musa AS segera menyambutnya dengan memberi salam.

    "Silakan masuk," kata Nabi Musa AS

    Sambil menundukkan kepala, langkah kaki wanita itu segera menghampiri Nabi Musa AS. Sembari menangis sedu, dia mencurahkan isi hatinya kepada Nabi Musa AS.

    "Wahai Nabi Allah. Tolonglah aku. Do'akan aku agar Tuhan mengampuni dosa keji saya."

    "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa terkejut.

    "Saya takut mengatakannya," jawab wanita itu

    "Katakanlah jangan ragu-ragu!" desak Nabi Musa.

    "Saya...telah berzina!"

    Mendengar itu, Nabi Musa AS kaget, tetapi tetap mendengarkan cerita wanita cantik tersebut.

    "Dari perzinaan itu saya pun...lantas hamil. Setelah anak itu lahir, langsung saya...cekik lehernya sampai...mati," ucap wanita itu seraya menangis sejadi-jadinya.

    Dengan raut muka yang sangat marah ia memukul wanita itu, "Perempuan bejad, pergi kamu dari sini! agar siksa Allah tidak jatuh ke dalam rumahku karena perbuatanmu. Pergi!"... teriak Nabi Musa sambil memalingkan mukanya karena jijik melihat wanita itu.

    Perempuan berwajah ayu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur luluh lantak segera bangkit dan melangkah surut. Dia terantuk-antuk keluar dari rumah Nabi Musa. Ratap tangisnya amat memilukan. Ia tak tahu harus kemana lagi hendak mengadu. 

    Bahkan ia tak tahu mau kemana lagi melangkahkan kakinya, Bila seorang Nabi saja sudah menolaknya bagaimana pula dengan manusia lainnya yang bakal menolongnya. 

    Terbayang olehnya betapa besar dosanya, batapa keji perbuatannya. Ia tidak tahu bahwa sepeninggalnya, Malaikat Jibril turun mendatangi Nabi Musa AS.

    Sang Ruhul Amin Jibril bertanya kepada Nabi Musa AS:

    "Mengapa engkau menolak seorang wanita yang hendak bertaubat dari dosanya? Tidakkah engkau tahu dosa yang lebih besar daripadanya?"

    Nabi Musa terperanjat, "Dosa apakah yang lebih besar dari kekejian wanita pezina itu?"

    Maka Nabi Musa dengan penuh rasa ingin tahu bertanya kepada Jibril.

    "Betulkah ada dosa yang lebih besar daripada dosa perempuan yang nista itu?"

    "Ada!" jawab Jibril dengan tegas.

    "Dosa apakah itu?" tanya Musa kian penasaran.

    Jibril menjawab, "Orang yang meninggalkan salat dengan sengaja dan tanpa menyesal. Orang itu dosanya lebih besar daripada seribu kali berzina."

    Mendengar penjelasan ini Nabi Musa kemudian memanggil wanita tadi untuk menghadap kembali kepadanya. Ia mengangkat tangan dengan khusuk untuk memohonkan ampunan kepada Allah untuk perempuan tersebut. 

    Nabi Musa menyadari orang yang meninggalkan sembahyang dengan sengaja dan tanpa penyesalan adalah sama saja seperti berpendapat bahwa sholat itu tidak wajib dan tidak perlu atas dirinya.Berarti ia seakan-akan menganggap remeh perintah Tuhan, bahkan Tuhan tidak punya hak untuk mengatur dan memerintah dirinya.

    Sedang orang yang bertaubat dan menyesali dosanya dengan sungguh-sungguh berarti masih mempunyai iman di dadanya dan yakin bahwa Allah itu berada dijalan ketaatan kepada-Nya. Itulah sebabnya Tuhan pasti mau menerima kedatangannya.

    Dalam hadits Nabi SAW, disebutkan: "Orang yang meninggalkan sholat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar 70 buah Alquran, membunuh 70 nabi dan bersetubuh dengan ibunya didalam Kabah."

    Dalam hadits lain disebutkan bahwa orang yang meninggalkan sholat sehingga terlewat waktu, kemudian ia mengqadhonya, maka ia akan disiksa dalam neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah delapan puluh tahun. Satu tahun terdiri dari 360 hari, sedangkan satu hari diakhirat perbandingannya adalah seribu tahun di dunia. (Berbagai Sumber)

    ,

    Ini Lho Bapak Moyangnya Bangsa Jin Yang Sebenarnya - Beberapa ulama berbeda pendapat tentang siapakah sebenarnya bapak moyang jin. Dari beberapa nash al-Quran yang menyangkut masalah jin, tidak satu pun yang menyebutkan nama tertentu yang dapat disebut sebagai bapak moyang jin.

    Image result for jin

    Sebagian ulama yang mendalami alam jin menyebutkan bahwa bapak moyang jin adalah iblis dan ada juga yang berpendapat bahwa bapak moyang mereka adalah al-Jan.ulama yang menyatakan bahwa bapak moyang jin adalah iblis, berpatokan ada nash al-Quran yang menyatakan,
    “…Dia (iblis) adalah dari golongan jin…” (al-Kahfi : 50)
    Sesuai dengan kaidah tata bahasa Arab, kata kaana dalam ayat itu berarti “dia adalah satu-satunya” dan kata jinni dalam nash tersebut menunjukkan bahwa jin yang berada bersama-sama malaikat pada saat itu berjumlah hanya satu. Jin itulah yang membangkang dan tidak bersedia sujud kepada Adam a.s. karena itu, Allah menyebutnya dengan sebutan “iblis” yang berarti makhluk yang putus asa atau putus harapan. Karena dia adalah satu-satunya jin yang ada ketika Adam diciptakan, beberapa ulama berpendapat bahwa iblis adalah bapak moyang jin dan juga menjadi bapak moyang setan.
    Adapun ulama yang berpendapat bahwa nenek moyang jin adalah al-Jan, mereka berkeyakinan bahwa nenek moyang jin berjumlah tidak hanya satu, tetapi lebih dari satu atau banyak. Penciptaan jin adalah seperti penciptaan malaikat dan tidak seperti penciptaan manusia.
    Nash yang mengisyaratkan bahwa jumlah nenek moyang jin itu banyak adalah,
    “Dan kami menciptakan al-Jan sebelum (Adam) dari api yang sangat panas.” (al-Hijr : 27)
    “Dan dia menciptakan al-Jan dari nyala api.” (ar-Rahman: 15)
    Al-Jan dalam ayat itu berarti jin yang diciptakan Allah pada permulaan penciptaannya berjumlah tidak hanya satu, tetapi banyal.
    Sumber : Kesaksian Raja Jin/ Abu Aqia/ Senayan Abadi Publishing

    Orang Ini Di Kutuk Menjadi Binatang Kera, Apa Penyebabnya ? - idaklah Allah menurunkan Al-Quran itu melainkan sebagai petunjuk dan peringatan bagi orang-orang yang beriman. Banyak  sekali kisah didalam Al-Quran yang bisa menjadi pelajaran bagi kita, dengan tujuan agar  kita selalu berada di jalan-Nya. Dan tidak mengikuti jalan orang-orang yang sesat dan kafir. Berikut adalah kisah kaum yahudi yang melanggar aturan yang telah ditetapkan-Nya hingga mereka dikutuk menjadi kera yang hina. Keterangan tersebut disebutkan di dalam firman Allah SWT:; 

    Kisah Orang Yahudi Dikutuk Menjadi Kera

    "
    Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabtu, lalu Kami berfirman kepada mereka, 'Jadilah kamu kera yang hina'." (QS Al-Baqarah: 65) 

    "Maka tatkala mereka bersikap sombong terhadap apa yang dilarang mereka mengerjakannya, Kami katakan kepadanya, 'Jadilah kamu kera yang hina'.” (QS Al-A”raf: 166) 

    Mereka termasuk dari kalangan bangsa Yahudi, yang hidup di masa lalu, jauh sebelum masa hidupnya nabi Muhammad SAW. Namun para mufassir sepakat yang dikutuk menjadi kera bukanlah seluruh bangsa yahudi. Kejadian itu hanya menimpa penduduk suatu desa saja, yang hidup di tepi pantai, di mana mata pencaharian mereka adalah menangkap ikan di laut. Allah melarang mereka untuk menangkap ikan di hari Sabtu, karena hari itu adalah hari khusus untuk beribadah. 

    "Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu, di waktu datang kepada mereka ikan-ikan mereka terapung-apung di permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik." (QS Al-A'raf: 163)

    Namun mereka melanggarnya, karena Allah memang sengaja menguji mereka. Caranya, justru di hari Sabtu itulah ikan-ikan bermunculan dengan jumlah yang sangat banyak, tapi di selain hari Sabtu terlarang itu, ikan-ikan seolah lenyap dari laut. 

    Karena itulah sebagian dari penduduk desa itu melakukan kecurangan. Yaitu mereka memasang perangkap pada hari Jumat sore menjelang masuknya hari Sabtu. Pada hari Sabtu mereka tetap beribadah. Dan pada hari Minggu, perangkap-perangkap itu telah dipenuhi ikan. Cara yang mereka tempuh ini tetap dianggap sebuah pelanggaran juga. Dan oleh karenanya, mereka yang melakukannya dikutuk menjadi kera yang hina. 

    Ayat ini menyebutkan bahwa yang dikutuk menjadi kera bukan semua bani Israel (Yahudi), melainkan sebagian di antara mereka saja. Namun umumnya bani Israel memang tahu kisah tentang ini, sehingga ayat ini meminta kepada nabi Muhammad SAW untuk menanyakan kisah kutukan jadi kera kepada bani Israel. 

    Bahkan di ayat berikutnya, ada keterangan lebih jelas lagi bahwa tidak semua penduduknya desa itu ikut jadi kera. Sebab ada sebagian dari merka yang tetap masih taat tidak melanggar larangan hari Sabtu. Mereka yang tidak dikutuk jadi kera ini adalah yang memberikan peringatan kepada mereka yang melanggar larangan. 

    "Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik." (QS. Al-”raf: 165).

    Kisah ini hanya sebuah contoh untuk kita jadikan pelajaran bahwa  menjauhi larangan-Nya itu lebih utama daripada mematuhi perintah-Nya. seperti kisah diatas, toh kaum yahudi itu tetap beribadah dihari sabtu tetapi mereka 'mengakali' peraturan Allah SWT dengan memasang perangkap ikan, dan mereka akhirnya dikutuk.

    Tetapi jangan pula dijadikan pijakan sebagai alasan menghindar dari kewajiban agama , "ah gua ga usah sholat, yang penting gua ga maksiat".

    Menjalankan shalat, puasa, zakat, haji adalah hal yang utama, tetapi menghindari perbuatan dosa adalah lebih utama.

    Kisah Sejarah Binatang-Binatang yang Masuk SurgaSurga dan Neraka adalah tempat dimana kita nanti setelah mengalami kematian. Surga akan dihuni oleh para Nabi (Rosul) dan pengikutnya (muslim yang alim) dan neraka tempatnya Setan dan pengikutnya (orang" Kafir). Tapi selain manusia, ada juga Binatang atau Hewan yang Masuk Surga.

    Image result for hewan surga

    Nah, berikut kisah 10 Binatang Yang Masuk Surga :

    1. Untanya Nabi Saleh A.S

    Alkisah :
    Mereka menambah lagi :
    "Coba kamu keluarkan seekor unta dari batu besar itu," kata mereka sambil menunjuk ke arah sebuah batu besar sambil tersenyum sinis. Mereka juga telah menerangkan sifat-sifat unta yang dikehendaki.

    Kaum Tsamud cukup yakin bahawa Nabi Saleh tidak mampu memenuhi permintaan mereka itu. Sebaliknya Nabi Saleh menjawab dengan tenang.
    "Baiklah, sekiranya aku dapat memenuhi permintaan kamu itu, adakah kamu akan beriman kepada Allah dan menerima ajaranku? Adakah kamu akan mengaku bahawa aku adalah utusan Allah?"

    "Baiklah, kami akan beriman kepada Allah dan akan menerima segala ajaran kamu," jawab mereka.
    Setelah satu persetujuan dimaterai, maka Nabi Saleh telah menunaikan sholat. Baginda memohon kepadaAllah s.w.t agar mengkabulkan permintaannya seperti yang dituntut oleh kaum Tsamud. Baginda juga berdoa semoga kaum itu akan kembali ke jalan yang benar selepas melihat bukti tersebut.

    Allah Maha Berkuasa. Dengan sekelip mata sahaja Allah telah mengkabulkan doa Nabi Saleh. Batu besar tadi telah merekah dan terbelah. Lalu keluarlah seekor unta betina yang besar. Unta itu mempunyai semua sifat yang disebutkan oleh kaum Tsamud.

    Maka, tercenganglah semua kaum Tsamud yang melihat kejadian itu. Sebagian daripada mereka mulai mengakui kenabian Nabi Saleh. Salah seorang daripada mereka ialah seorang pemimpin kaum Tsamud yang bernama Junda bin Amru. Akan tetapi, sebahagian yang lain masih enggan beriman. Mereka tetap degil dan sombong.

    2. Anak Sapinya Nabi Ibrahim A.S

    Kisah ini saya dapet potongan surah adz-dzariyat :
    "Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? (Ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: "Salaama".
    Ibrahim menjawab: "Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal."
    Maka dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. Lalu dihidangkannya kepada mereka.
    Ibrahim lalu berkata: "Silahkan anda makan." (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka.
    Mereka berkata: "Janganlah kamu takut", dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak)." (QS. Adz Dzariyat: 24-30).
    3. Kambing Gibasnya Nabi Ismail A.S
    Nabi Ibrahim yang dikatakan memiliki kekuatan 40 kali manusia biasa, dengan pisau yang tajam, maka menyembelih anaknya (Ismail) dan Allah melihat kepatuhan Ibrahim, maka Allah mengirimkan malaikat Jibril untuk menggantikan posisi Ismail dengan kambing gibasy yang gemuk, dengan sekejab saja, ternyata yang putus kepalanya adalah kepala kambing gibasy itu dan Ismail pun diselamatkan oleh Malaikat Jibril atas perintah Allah SWT. Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillaahi Hamd.
    Dari peristiwa itu telah menjadi syari’at ummat Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wassalam untuk melaksanakan ibadah qurban.

    4. Sapinya Nabi Musa A.S

    Alkisah :
    Tatkala Nabi Musa a.s menyampaikan cara yg diwahyukan oleh Allah SWT itu kpd kaumnya, ia ditertawakan dan diejek krn akal mereka tidak dapat menerima bahwa hal yg sedemikian itu boleh terjadi. Mereka lupa bahwa Allah SWT telah berkali-kali menunjukkan kekuasaan-Nya melalui mukjizat yg diberikan kpd Nabi Musa yg kadang kala bahkan lebih hebat dan lebih sukar utk diterima oleh akal manusia berbanding mukjizat yg mereka hadapi dlm peristiwa pembunuhan pewaris itu.
    Berkata mereka kpd Nabi Musa secara mengejek:
    "Apakah dgn cara yg engkau usulkan itu, engkau bermaksud hendak menjadikan kami bahan ejekan dan tertawaan org? Akan tetapi kalau memang cara yg engkau usulkan itu adalah wahyu, maka cobalah tanya kpd Tuhanmu, sapi betina atau jantankah yg harus kami sembelih? Dan apakah sifat-sifatnya serta warna kulitnya agar kami tidak dapat salah memilih sapi yg harus kami sembelih?"

    Nabi Musa menjawab:
    "Menurut petunjuk Allah, yg harus disembelih itu ialah sapi betina berwarna kuning tua, belum pernah dipakai utk membajak tanah atau mengairi tanaman, tidak cacat dan tidak pula ada belangnya."
    Kemudian dikirimkanlah org ke pelosok desa dan kampung-kampung mencari sapi yg dimaksudkan itu yg akhirnya diketemukannya pd seorang anak yatim piatu yg memiliki sapi itu sebagai satu-satunya harta peninggalan ayahnya serta menjadi satu-satunya sumber nafkah hidupnya. Ayah anak yatim itu adalah seorg fakir miskin yg soleh, ahli ibadah yg tekun, yg pada saat mendekati waktu wafatnya, berdoalah kpd Allah memohon perlindungan bagi putera tunggalnya yg tidak dapat meninggalkan warisan apa-apa baginya selain seekor sapi itu. Maka berkat doa ayah yg soleh itu terjuallah sapi si anak yatim itu dgn harga yg berlipat ganda krn memenuhi syarat dan sifat-sifat yg diisyaratkan oleh Musa utk disembelih.
    Setelah disembelih sapi yg dibeli dari anak yatim itu, diambillah lidahnya oleh Nabi Musa, lalu dipukulkannya pada tubuh mayat, yg seketika bangunlah ia (sapi) hidup kembali dgn izin Allah, menceritakan kpd Nabi Musa dan para pengikutnya bagaimana ia telah dibunuh oleh saudara-saudara sepupunya sendiri.
    Demikianlah mukjizat Allah yg kesekian kalinya diperlihatkan kpd Bani Israil yg keras kepala dan keras hati itu namun belum juga dapat menghilangkan sifat-sifat congkak dan membangkang mereka atau mengikis-habis bibit-bibit syirik dan kufur yg masih melekat pada dada dan hati mereka.

    5. Ikan Yang Memakan Nabi Yunus AS

    Alkisah :
    Kemudian Nabi Yunus AS menaiki kapal yang dipenuhi penumpang dan muatan. Ketika mereka berada di tengah-tengah lautan maka kepal itu miring dan hampir tenggelam, dimana mereka harus mengambil salah satu keputusan antara mereka tetap berada di kapal semuanya dengan resiko mengalami kebinasaan; atau membuang sebagian dari mereka agar kapal itu menjadi ringan dan menyelamatkan sisanya.

    Akhirnya mereka memilih jalan yang terakhir setelah menemui kesepakatan di antara mereka. Kemudian mereka melakukan pengundian dan sejumlah penumpang terkena undian tersebut termasuk di dalamnya Nabi Yunus AS, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
    "… kemudian ia ikut berundi lalu dia termasuk orang-orang yang kalah untuk undian." (Ash-Shaffat: 141).
    Yakni ia (Nabi Yunus AS) termasuk dari orang-orang yang kalah dalam undian tersebut. Kemudian mereka pun melemparkannya ke laut, serta seekor ikan besar menelannya, akan tetapi tidak sampai mematahkan tulangnya dan merobek dagingnya.
    Ketika Nabi Yunus AS berada di dalam perut ikan, maka dalam keadaan gelap (dalam perut ikan) ia berseru,
    "Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim." (Al-Anbiya’: 87).
    Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada ikan itu supaya memuntahkan Nabi Yunus AS di daerah yang tandus.
    Nabi Yunus AS keluar dari perut ikan tersebut bagaikan anak burung yang baru keluar dari telur (baru menetas) karena saking lemahnya. Kemudian Allah Ta’ala mengasihinya dan menumbuhkan sebuah pohon dari jenis pohon labu baginya, dimana pohon itu meneduhinya, sehingga ia kuat kembali.

    Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Yunus AS supaya kembali ke kaumnya, agar ia mengajari dan menyeru mereka, dan penduduk negeri itu memenuhi seruannya sebanyak seratus ribu orang atau lebih, dimana mereka beriman, sehingga Kami karuniakan kepada mereka kenikmatan hidup hingga batas waktu tertentu.

    6. Khimarnya Nabi Uzair AS

    Alkisah :
    Uzair bangun dari kematian yang dijalaninya selama seratus tahun. Matanya mulai memandang apa yang ada di sekelilingnya lalu ia melihat kuburan di sekitarnya. Ia mengingat-ingat bahawa ia telah tertidur. Ia kembali dari kebunnya ke desa lalu tertidur di kuburan itu.

    Inilah peristiwa yang dialaminya :
    Matahari bersiap-siap untuk tenggelam sementara ia masih tertidur di waktu Dzuhur. Uzair berkata dalam dirinya:
    "Aku tertidur cukup lama. Barangkali sejak Dzuhur sampai Maghrib. Malaikat yang diutus oleh Allah s.w.t membangunkannya dan bertanya: "Berapa lama kamu tinggal di sini?"."

    Malaikat bertanya kepadanya: "Berapa jam engkau tidur?"
    Uzair menjawab: "Saya tinggal di sini sehari atau setengah hari." Malaikat yang mulia itu berkata kepadanya: "Sebenarnya kamu tinggal di sini selama seratus tahun lamanya. Engkau tidur selama seratus tahun. Allah s.w.t mematikanmu lalu menghidupkanmu agar engkau mengetahui jawaban dari pertanyaanmu ketika engkau merasa heran dari kebangkitan yang dialami oleh orang-orang yang mati."

    Uzair merasakan keheranan yang luar biasa sehingga tumbuhlah keimanan pada dirinya terhadap kekuasaan al-Khaliq (Sang Pencipta).
    Malaikat berkata sambil menunjuk makanan Uzair: "Lihatlah kepada makanan dan minumanmu yang belum berubah."

    Uzair melihat buah tin itu lalu ia mendapatinya seperti semula di mana warnanya tidak berubah dan rasanya pun tidak berubah. Telah berlalu seratus tahun tetapi bagaimana mungkin makanan itu tidak berubah?
    Lalu Uzair melihat piring yang di situ ia memeras buah anggur dan meletakkan di dalamnya roti yang kering, dan ia mendapatinya seperti semula di mana minuman anggur itu masih layak untuk diminum dan roti pun masih tampak seperti semula, di mana kerasnya dan keringnya roti itu dapat dihilangkan ketika dicampur dengan perasan anggur.

    Uzair merasakan keheranan yang luar biasa, bagaimana mungkin seratus tahun terjadi sementara perasan anggur itu tetap seperti semula dan tidak berubah.
    Malaikat merasa bahwa seakan-akan Uzair masih belum percaya atas apa yang dikatakannya. kerana itu, malaikat menunjuk keledainya sambil berkata:
    "Dan lihatlah kepada keledaimu itu (yang telah menjadi tulang- belulang)."

    Uzair pun melihat ke keledainya tetapi ia tidak mendapati kecuali ia tanah dari tulang-tulang keledainya. Malaikat berkata kepadanya:
    "Apakah engkau ingin melihat bagaimana Allah s.w.t membangkitkan orang-orang yang mati? Lihatlah ke tanah yang di situ terletak keledaimu."
    Kemudian malaikat memanggil tulang-tulang keledai itu, lalu atom-atom tanah itu memenuhi panggilan malaikat sehingga ia mulai berkumpul dan bergerak dari setiap arah lalu terbentuklah tulang-tulang.
    Malaikat memerintahkan otot-otot saraf daging untuk bersatu sehingga daging melekat pada tulang-tulang keledai. Sementara itu, Uzair memperhatikan semua proses itu. Akhirnya, terbentuklah tulang dan tumbuh di atasnya kulit dan rambut.

    Alhasil, keledai itu kembali seperti semula setelah menjalani kematian. Malaikat memerintahkan agar roh keledai itu kembali kepadanya dan keledai pun bangkit dan berdiri. Ia mulai mengangkat ekornya dan bersuara.
    Uzair menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah s.w.t tersebut terjadi di depannya. Ia melihat bagaimana mukjizat Allah s.w.t yang berupa kebangkitan orang-orang yang mati setelah mereka menjadi tulang belulang dan tanah.
    Setelah melihat mukjizat yang terjadi di depannya, Uzair berkata:
    "Saya yakin bahawa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."

    Allah s.w.t berkehendak untuk menjadikan Uzair sebagai tanda-tanda kebesaran-Nya kepada masyarakat dan mukjizat yang hidup yang menjadi saksi atas kebenaran kebangkitan dan hari kiamat.

    Uzair bangkit dan menunggangi keledainya menuju desanya. Uzair memasuki desanya pada waktu Maghrib. Ia tidak percaya melihat perubahan yang terjadi di desanya di mana rumah-rumah dan jalan-jalan sudah berubah, begitu juga manusia dan anak-anak yang ditemuinya. Tak seorang pun di situ yang mengenalinya. sebaliknya, ia pun tidak mengenali mereka.
    Uzair meninggalkan desanya saat beliau berusia empat puluh tahun dan kembali kepadanya dan usianya masih empat puluh tahun. Tetapi desanya sudah menjalani waktu seratus tahun sehingga rumah-rumah telah hancur dan jalan-jalan pun telah berubah dan wajah-wajah baru menghiasi tempat itu.

    7. Semutnya Nabi Sulaiman AS

    Alkisah :
    Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung, lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan) sehingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut,
    "hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tenteranya, sedangkan mereka tidak menyadari."
    Maka Nabi Sulaiman tersenyum dengan tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Katanya,
    "Ya Rabbi, limpahkan kepadaku kurnia untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku; kurniakan padaku hingga boleh mengerjakan amal soleh yang Engkau ridhai; dan masukkan aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang soleh." (An-Naml: 16-19)

    Menurut sejumlah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman as bertanya kepada seekor semut,
    "Wahai semut! Berapa banyak engkau perolehi rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?"
    "Sebesar biji gandum," jawabnya.
    Kemudian, Nabi Sulaiman memberi semut sebiji gandum lalu memeliharanya dalam sebuah botol. Setelah genap satu tahun, Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut. Namun, didapatinya si semut hanya memakan sebahagian biji gandum itu.
    "Mengapa engkau hanya memakan sebagian dan tidak menghabiskannya?" tanya Nabi Sulaiman.
    "Dahulu aku bertawakal dan pasrah diri kepada Allah," jawab si semut. "Dengan tawakal kepada-Nya aku yakin bahwa Dia tidak akan melupakanku. Ketika aku berpasrah kepadamu, aku tidak yakin apakah engkau akan ingat kepadaku pada tahun berikutnya sehingga boleh memperoleh sebiji gandum lagi atau engkau akan lupa kepadaku. Karena itu, aku harus tinggalkan sebahagian sebagai bekal tahun berikutnya."..
    8. Burung Hud-Hud Nabi Sulaiman AS

    Alkisah :
    Pada suatu ketika, Nabi Sulaiman mengumpulkan dan memeriksa seluruh pengikut-pengikutnya baik dari kalangan manusia, jin dan binatang, termasuk burung-burung. Berdasarkan pemeriksaannya, Nabi tidak melihat burung hud-hud. Karena ketidakhadiran burung hud-hud tersebut, beliau berjanji akan mengazabnya dengan azab yang keras, atau bahkan menyembelihnya.

    Ternyata, tidak lama kemudian, burung hud-hud datang menghadap Nabi Sulaiman. Burung hud-hud menjelaskan perihal keterlambatannya karena mencari berita tentang adanya seorang wanita yang menjadi pemimpin suatu negara dan dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.
    Atas berita yang dibawa oleh burung hud-hud tersebut, akhirnya Nabi Sulaiman mengunjungi kerajaan Saba yang dipimpin oleh ratu Balqis yang akhirnya masuk Islam dengan dakwah Nabi Sulaiman. Kisah tersebut diabadikan dalam Qur’an Surat An-Naml ayat 22-23.

    Kisah tersebut menggambarkan burung hud-hud (sebagai anak buah) yang mempunyai kecerdasan dan kecemerlangan berpikir sehingga pengembaraannya dalam mencari makanan (nafkah) tidak semata untuk tujuan duniawi melainkan untuk penyebaran agama.
    Burung hud-hud, di antara waktunya, memanfaatkan kesempatan mencari berita dan kabar suatu kaum karena ia berkeinginan untuk menyampaikan risalah Islam kepada mereka. Melalui presentasi burung hud-hud yang gemilang serta keberanian dalam mengemukakan uzur (keterlambatan), Nabi Sulaiman dapat mengajak kaum Saba untuk mentauhidkan Allah.

    9. Untanya Nabi Muhammad Saw

    Alkisah :
    Ketika itu kami bersama Nabi besar Muhammad Saw tengah berada dalam sebuah peperangan. Tiba-tiba datang seekor unta mendekati beliau, lalu unta tersebut berbicara:
    "Ya Rasulullah, sesungguhnya si fulan (pemilik unta tersebut) telah memanfaatkan tenagaku dari semenjak muda hingga usiaku telah tua seperti sekarang ini. Kini ia malah hendak menyembelihku. Aku berlindung kepadamu dari keinginan si fulan yang hendak menyembelihku."

    Mendengar pengaduan sang unta, Rasulullah Saw memanggil sang pemilik unta dan hendak membeli unta tersebut dari pemiliknya. Orang itu malah memberikan unta tersebut kepada beliau.. Unta itu pun dibebaskan oleh Nabi kami Muhammad Saw.

    Juga ketika kami tengah bersama Muhammad Saw, tiba-tiba datang seorang Arab pedalaman sambil menuntun untanya. Arab baduy tersebut meminta perlindungan karena tangannya hendak dipotong, akibat kesaksian palsu beberapa orang yang berkata bohong. Kemudian unta itu berbicara dengan Nabi kami Muhammad Saw:
    "Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang ini tidak bersalah. Para saksi inilah yang telah memberikan pengakuan palsu karena mereka telah dipaksa. Sebenarnya pencuriku adalah seorang Yahudi."

    10. Anjingya Ashabul Kahfi
    Anjing tersebut berwarna kuning, di surga bentuknya berubah menjadi kambing gibas, ia bernama Qithmir, ada yang mengatakan bernama Tawarum dan ada yang mengatakan bernama Huban.
    Itulah kisah 10 Binatang yang Masuk Surga menurut sumber Al Qur'an yang mungkin bisa menjadi pengetahuan buat kamu. Dan semoga kita menjadi Orang-Orang yang dicintai Allah. Amin.. Disalin Arie Pinoci sumber feedproxy.google.com.


Top